<div style='background-color: none transparent;'><a href='http://www.adamazer.com/' title=''>amazon banners</a></div>

Social Icons

youtube facebookgoogle plusgrop sarkubtwitteremail

Jumat, 12 Juni 2015

KH. Sullam Syamsun

003KH. Sullam Syamsun Dilahirkan pada tahun 1922 di Malang. Tidak banyak biografi yang mengulas Kiai berpangkat terakhir Brigadir Jendral bintang satu ini (satu-satunya penyandang pangkat tertinggi kemiliteran dari para tokoh NU yang pernah aktif di bidang kemiliteran), semuanya hanya cuplikan dan potongan sejarah ringkas beliau.
Beliau adalah kakak kelas dari KH. Muchit Muzadi (salah satu deklarator PKB) di Tebuireng, Jombang. Ketika di Tebuireng itu, KH. Sullam Syamsun ini mempunyai organisasi yang bernama KPIM ( Kumpulan pemuda Indonesia Merdeka), KH. Sullam Syamsun adalah ketuanya sedngkan KH. Muchit Muzadi adalah anggotanya yang paling menonjol. Karena Belanda melarang penggunaan kata-kata "Indonesia" dan "merdeka", maka kepanjangan dari KPIM diubah menjadi "Kumpulan Pemuda Islam Malang".

Selepas penjajahan Belanda, beliau memasuki PETA pada zaman penjajahan Jepang dan terus membantu mengadakan perlawanan terhadap Belanda ketika zaman perang kemerdekaan, yang ingin kembali menjajah Indonesia bersama dengan beberapa tokoh seperti KH Munasir Ali, KH Asnawi Latief, dan KH Yusuf Hasyim.
Beliau banyak melakukan perjuangan di daerah Malang dan sekitarnya saat Belanda banyak melakukan operasi militer. Selepas perang kemerdekaan, beliau meneruskan karir militernya di TNI. Pada masa karir keaktifannya didunia kemiliteran berbagai jabatan telah ia rengkuh mulai dari Komandan KompiI merangkap Wakil Batalyon I Brigade IV Brawijaya, Komandan keamanan Malang Kota, Komandan Batalyon 523, 514, Pa Teritorium V/Brawijaya dan pada tahun 1977 pensiun penuh dengan pangkat terakhir Brigadir Jenderal TNI.
Ketika NU masih menjadi partai politik, beliau sempat menjadi salah satu anggota DPRGR. Ia juga sempat menjadi Sesmenko pada zaman orde lama. Sementara itu jabatannya di NU adalah sebagai ketua Lembaga Dakwah NU (LDNU) periode 1989-1994 pada era kepemimpinan Gus Dur.
Pada tanggal 23 Juli 1998 M / 29 Rabiul Awwal 1419 H, bersama Gus Dur dan Kiai-kiai yang lain, PKB dideklarasikan. KH. Sullahm Syamsun tercatat menjadi salah satu anggota dewan Syura, dengan ketua dewan syura KH. Ma'ruf Amin.
Ketua PBNU HM Rozy Munir yang merupakan anak dari KH Munasir Ali menceritakan bahwa KH. Sullam Syamsun ini merupakan salah satu tokoh NU yang memiliki pendirian yang tegas. Namun demikian ia sangat bijak dalam mengambil berbagai keputusan penting.
Diceritakannya saat NU dituduh telah tersusupi oleh PKI pada zaman orde baru, beliau meminta agar pemerintah tidak gampang untuk membuat tuduhan yang tidak berdasar. Dari dulu NU merupakan musuh dari PKI yang tak bertuhan.
Walaupun sudah dalam kondisi sepuh, beliau tetap rajin mengikuti berbagai acara besar yang diselenggarakan oleh NU seperti muktamar atau konferensi besar meskipun dengan transportasi ala kadarnya seperti naik bis.
KH. Sullam Syamsun wafat pada hari Rabu 19 Oktober 2005, pukul 10.30 akibat komplikasi dari berbagai penyakit dan usia yang sudah lanjut dalam usia 83 tahun. Almarhum meninggalkan 8 orang anak, 2 laki-laki dan 6 perempuan, salah satunya Ir. Iqbal Sullam kini menjadi wakil sekjen PBNU. Almarhum dimakamkan di pemakaman Karet Jakarta Selatan.
Oleh majalah AULA Edisi November 2012 hal. 58-59, beliau termasuk 9 komandan perang NU, yang daftar lengkapnya sebagai berikut :
1. KH. Zainul Arifin
2. KH. Masjkur
3. KH. Munasir Ali
4. KH. Sullam Syamsun
5. KH. Iskandar Sulaiman
6. KH. Hasyim Latief
7. KH. Zainal Mustofa
8. H. Abdul Manan Widjaya
9. Hamid Roesdi
Lahu Al-Faatihah
Comments
0 Comments

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

 

Tombo Ngantuk

Translate

 
Blogger Templates