<div style='background-color: none transparent;'><a href='http://www.adamazer.com/' title=''>amazon banners</a></div>

Social Icons

youtube facebookgoogle plusgrop sarkubtwitteremail

Jumat, 12 Juni 2015

Habib Abdullah Bilfaqih, Ulama Muhadits Kota Malang

Habib Abdullah bin Abd. Qadir Bilfaqih

Ketika berziarah ke makam Rasulullah saw, Habib Abdul Qadir Bilfaqih memanjatkan doa' kepada Allah swt agar dikaruniai putra yang kelak tumbuh sebagai Ulama besar dan menjadi seorang Ahli Hadits.

Beberapa bulan kemudian, doa' itu dikabulkan Allah swt. Pada tanggal 12 Rabiul Awal 1355 H / 1935 M lahirlah seorang putra buah pernikahan Habib Abdul Qadir dengan Syarifah Ummi Hani binti Abdillah bin Aqil, yang dikemudian diberi nama Abdullah.
Sesuai dengan doa' yang dipanjatkan di makam Rasulullah saw, Habib Abdul Qadir pun mencurahkan perhatian sepenuhnya untuk mendidik putra tunggalnya itu. Pendidikan langsung ayahanda ini tidak sia-sia. Ketika masih berusia tujuh tahun, Habib Abdullah sudah hafal Al-Qur'an.



Hal itu tentu saja tidak terjadi secara kebetulan. Semua itu berkat kerja sama yang seimbang antara ayah yang bertindak sebagai guru dan anak sebagai murid. Sang guru mengerahkan segala daya upaya untuk membimbing dan mendidik sang putra, sementara sang anak mengimbanginya dengan semangat belajar yang tinggi, ulet, tekun dan rajin.


Menjelang dewasa, Habib Abdullah menempuh pendidikan di Lembaga Pendidikan At-Taroqi, dari Madrasah Ibtidaiyah hingga Tsanawiyah di Malang, kemudian melanjutkan ke Madrasah Aliyah di Pondok Pesantren Darul Hadits Al-Faqihiyyah li Ahlis Sunnah Wal Jamaah. Semua lembaga pendidikan itu berada di bawah asuhan ayahandanya sendiri.

Sebagai murid, semangat belajarnya tinggi. Dengan tekun beliau menelaah berbagai kitab sambil duduk. Gara-gara terlalu kuat belajar, beliau pernah jatuh sakit. Meski begitu beliau tetap saja belajar. Barang kali karena ingin agar putranya mewarisi ilmu yang dimilikinya, Habib Abdul Qadir pun berusaha keras mendidik Habib Abdullah sebagai Ahli Hadits.


Maka wajarlah jika dalam usia relative muda, Habib Abdullah telah hafal dua kitab Hadits Shoheh, yakni Shohihul Bukhari dan Shohihul Muslim, lengkap dengan sanad dan silsilahnya. Tak ketinggalan kitab-kitab Ummahatus Sitt ( kitab Induk Hadits ), seperti Sunan Abu Daud, Sunan Turmudzy, Musnad Syafi'i, Musnad Imam Ahmad bin Hanbal, Muwatha' karya Imam Malik; An-Nawadirul Ushul karya Imam Hakim At-Turmuzy, Al-Ma'ajim ats-Tsalats karya Abul Qasim At-Thabrany, dll. 


Tidak hanya menghafal hadits, Habib Abdullah juga memperdalam ilmu Musthalah Hadits, yaitu ilmu yang mempelajari hal ikhwal hadits, berikut perawinya, seperti Rijalul Hadits. Beliau juga menguasai Ilmu Jahr Ta'dil ( kriteria hadits yang diterima ) dengan mempelajari kitab-kitab Taqribut Tahzib karya Ibnu Hajar Al-Asqailany, Mizanut Ta'dil karya Al-Hafidz adz-Dzahaby.

Selain dikenal sebagai ahli hadits, Habib Abdullah juga memperdalam tasawuf dan fiqih, juga langsung dari ayahandanya. Dalam ilmu fiqih beliau mempelajari kitab fiqih empat madzhab ( Madzhab Hanafi, Maliki, Syafi'i, Hanbali ), termasuk kitab-kitab fiqih lain, seperti Fatawa Ibnu Hajar, Fatawa Ramli, dan Al-Muhadzadzab Imam Nawawi.

Setelah ayahandanya wafat pada 19 November 1962 ( 21 Jumadil Akhir 1382 H ), otomatis Habib Abdullah menggantikannya, baik sebagai pengasuh Pondok Pesantren, Mubaligh, maupun pengajar. Selain menjabat Direktur Lembaga pesantren Darul Hadits Malang, beliau juga memegang beberapa jabatan penting, baik di Pemerintahan maupun Lembaga Keagamaan, seperti Penasihat Menteri Kesejahteraan Rakyat, Mufti Lajnah Ifta Syafi'i dan pengajar kuliah tafsir dan hadits di IAIN dan IKIP Malang. Beliau juga sempat menggondol titel Doktor dan Profesor.
Comments
0 Comments

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

 

Tombo Ngantuk

Translate

 
Blogger Templates