<div style='background-color: none transparent;'><a href='http://www.adamazer.com/' title=''>amazon banners</a></div>

Social Icons

youtube facebookgoogle plusgrop sarkubtwitteremail

Featured Posts

Makam Habib Abdullah Bil faqih

Makam Umum Kasin Malang

Makam Mbah Mbatu

Kota Batu Malang

Makam Sayid Alwi Alidrus

Makam Umum Kasin Malang

Makam Nyai Kanigoro Malang

Istri Sayid Sulaiman Mojoagung

Makam Ki Ageng Gribik

Sawojajar Malang

Jumat, 14 Agustus 2015

KH Badrus Salam

Lahir di Desa Tempursari, Kecamatan Klaten, Solo Jateng, pada Tahun 1906. Wafat Sabtu, 9 Muharram 1394 H (2 Februari 1974). Dimakamkan di Pemakaman Umum Kasin, Malang. Pendidikan Ponpes Jamsaren, Solo. Putra/Putri 7 Orang
Perjuangan/Pengabdian : Guru Madrasah Muallimin, Jagalan, Mengajar di beberapa masjid, termasuk di Masjid Agung Jami' Malang, menjadi Imam Rowatib, dan Pengurus Takmir Masjid Agung Jami' Malang, menjadi Syuriyah NU Cabang Malang.

Senin, 29 Juni 2015

MBAH HAMID DAN KYAI IHSAN

Pernah diceritakan, dahulu kala, KH. Abdul Hamid Pasuruan mempunyai khadam (orang yg membantu kebutuhan sehari-hari Kiai) yg berasal dari kota Malang, Ihsan, itulah sapaan akrabnya. Mengikuti segala rutinitas pesantren, menjaga putra Kiai, dan sekolah. Itulah kebiasaan sehari-harinya.

Tahun demi tahun, Ihsan lewati masa-masa santrinya di pondok salafiyah dengan bahagia. Akan tetapi semua itu menjadi sirna ketika ayahanda Ihsan, H. Nuruddin, menjemputnya dengan maksud utk memberhentikan sementara Ikhsan dari pesantren.

“Ihsan… Bapak wes orah duwe duwit nak, nyambot gawene Bapak orah hasil. Awakmu sak iki boyong ae sementara, engko lek abah wes duwe duwet mondok maneh.” (Ihsan… Bapak sudah tidak punya uang lagi, pekerjaan Bapak masih belum hasil. Sekarang kamu berhenti saja dulu dari pesantren, nanti jika Bapak sudah punya uang Ikhsan mondok lagi). Ujar Ayah Ihsan. Mendengar ucapan tersebut Ihsan pun tdk mampu berbuat apa-apa lagi, Ia juga tak kuasa menggerakkan bibirnya utk menjawab penjelasan dari ayahnya. Dengan pasrah Ihsan pun mengangguk. “Ayo nak saiki tak pametno nang Romo Kiai.” (ayo nak, sekarang saya pamitkan ke romo Kiai) ajak ayah Ihsan.

Ketika berjalan menuju Ndalem (kediaman) Mbah Hamid, beliau sudah berada di teras kediamannya. Ketika Ayah dan anak tersebut sudah mendekat Mbah Hamid langsung berkata. “Wes, saiki sampean mulio Ihsan lek nang kene anakku, sampean nggak usah repot ngirim. Jarno Ihsan nangkene ambek aku.” (Sudah, sekarang sampean pulang saja, kalau di sini Ihsan adalah anakku, sampean tidak usah repot untuk mengirim bekal. Biarkan Ikhsan disini bersama saya) ujar Mbah Hamid dengan nada yang agak tinggi. Subhanalloh… padahal ayah Ihsan masih belum mengucap sepetah kata pun. Akan tetapi Mbah Hamid sudah mengetahui maksud kedatangannya.

Mendengar ucapan Mbah Hamid yg seperti itu, Ayah Ihsan tidak bisa berbuat apa-apa. Beliau pun hanya bisa menganggukkan kepala. Setelah ayah Ihsan meminta undur diri. Mbah Hamid langsung mengajak Ihsan kedalam Ndalem “San, awakmu nang kene melok aku. Lek Aku mangan, awakmu yo mangan. Lek Aku nggak mangan, awakmu yo orah mangan. Awakmu kan bagian ndulang Naseh. Lah, lek adang lebihono awakmu oleh ngampung” (San, Kamu di sini saja ikut denganku. Kalau Aku makan, kamu juga makan. Kalau Aku tidak makan, kamu juga tidak makan. Kamukan biasanya menyuapi Nashih (putra kedua Mbah Hamid). Lah, kalau menanak nasi, sekarang kamu lebihkan, kamu boleh ikut makan juga) ujar Mbah Hamid dengan nada yg lembut. Mendengar ucapan Mbah Hamid yg seperti itu, Ihsan pun tak kuasa untuk menahan tangis harunya. Dan Ihsan yg kini yang memangku pesantren Nurul Hikmah as-Salafiyah di desa Ketintang, Pajaran Ponco Kusumo Malang tersebut, mengaku bahwa semenjak beliau tak lagi dikirim bekal oleh orang tuanya. Rezeki beliau di pesantren malah bertambah banyak, hingga dapat membeli 8 sarung sutra yang harganya kurang lebih Rp. 250.000 (uang sekarang).


Al-Faatihah


Sumber : Hamim Jazuli



Jumat, 12 Juni 2015

KH. Masykur Singosari

002KH Masykur lahir di Singosari pada tahun 30 Desember 1900 M dan ada yang menyebut tahun 1904. Ketika ibunda KH Masykur mengandung dia melaksanakan haji ke tanah suci meskipun begitu dia tetap melakasanakan haji dengan khidmat. Oleh karenanya beliau sudah merasakan naik Haji bahkan ketika masih di dalam kandungan. Pada usia sepuluh tahun beliau sudah menunaikan rukun Islam yang ke-5. Ayahanda beliau sangat anti terhadap penajajah belanda. Oleh karena itu beliau menghabiskan masa muda beliau di lingkungan pesantren.
 

Tombo Ngantuk

Translate

 
Blogger Templates